Sebelum sistem konsuptual untuk setiap sistem – Membandingkan antara

Sebelum
membahas mengenai prinsip soft sistem thinking, pertama yang akan dibahas
adalah kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa itu sistem. Tubuh kita
merupakan kumpulan sebuah sistem yang satu dan lainnya saling berhubung dan
berkaitan. Begitu pula bumi tempat dimana kita tinggal merupakan bagian dari
sistem tata surya. Sistem merupakan suatu konsep yang dibuat untuk mempermudah
tentang pemahaman pada sesuatu yang berada didalam suatu lingkungan dimana
diperlukan kesepakatan mengenai batas-batas dari sistem itu sendiri. Pada
awalnya Soft sistem thinking digunakan dalam bentuk nyata, tetapi kecenderungan
beberapa tahun kemudian telah digunakan sebagai alat pengembangan untuk
kegiatan pembelajaran dan pemaknaan. Dasar dari Soft sistem thinking sendiri
berangkat dari pemikiran bahwa jika partisipasi seseorang dalam suatu proses
menenmukan situasi masalah serta cara untuk memperbaikinya, maka orang tersebut
akan lebih suka untuk mengerti perbaikan yang diharapkan, merasa memiliki
permasalah tersebut, dan berkomitman untuk merubahnya. Soft sistem thinking
merupakan bagian dari soft sistem metodologi yang merupakan sebuah metodologi
yang cocok untuk membantu manusia dalam menjelaskan tujuan mereka dan kemudian
merancang sistem aktivitas manusia tersebut untuk mencapai tujuan yang benar.

Prinsip
soft sistem thinking merupakan bagian dari prinsip-prinsip sistem informasi.
Prinsip soft sistem thinking sendiri disebut juga sebagai human activity system
karena memiliki ruang lingkup dari aktivitas manusia yang kurang jelas dan
terkesan dinamis. Maksud dari kata kurang jelas karena manusia memiliki
kegiatan aktifitas yang berubah-ubah sesuai dengan keadaan yang akan terjadi
setiap harinya dan terkesan dinamis karena manusia terus melakukan sesuatu yang
berubah dan berkembang secara aktif, atau seseorang yang sangat antusias dengan
banyak energy dan tekad. Dalam prosesnya prinsip soft sistem thinking sendiri
melihat dari berbagai sisi memperhatikan berbagai aspek dari  sosial shumaniora yaitu Segi Sosial,Segi Budaya,Segi
Politik,Segi Psikologi,Segi Etika dan Segi Estetika.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Karena prinsip
soft sistem thinking sendiri berbicara mengenai kegiatan atau aktivitas manusia
seperti :

–        
Mengidentifikasi
masalah yang tidak terstruktur

–        
Mengumpulkan
data & informasi

–        
Menghubungkan
masalah dengan sistem yang ada

–        
Membuat
model sistem konsuptual untuk setiap sistem

–        
Membandingkan
antara model yang telah dibuat dengan kenyataan

Serta
 manusia pasti membutuhkan aspek dari
segi sosial karena manusia tidak bisa hidup sendiri dan pasti membutuhkan
manusia yang lain untuk bertahan hidup dan membangun persaudaraan untuk
mendapatkan beberapa hubungan untuk kepentingan manusia itu sendiri. Dari segi
budaya manusia pasti memiliki budaya dari zaman dahulu, dari zaman nenek moyang
karena merupakan identitas mengenai suku, ras, agama, bahasa dan sebagainya
serta dari segi politik menusia akan memilih pemimpin yang akan memimpin serta
memecahkan dan mengidentifikasi masalah yang ada dengan adil lalu psikologi
untuk mengatur dan menjaga kekuatan mental baik secara jasmani dan rohani agar
setiap manusia dapat berinegrasi satu sama lain dengan adanya ilmu atau
pembelajaran dalam hal psikologi maka etika yang tercipta dapat diterima oleh
semua manusia dan estetika membuat manusia akan merasakan hal yang indah
apabila semua berjalan sesuai dengan prinsip yang terstruktur dan masalah yang
mungkin akan muncul bisa diidentifikasi melalui pengumpulan data dan informasi
yang cukup mengenai permasalahan yang muncul serta menghubungkan masalah yang
ada dengan sistem pemikiran yang ada untuk pencarian jalan keluar yang terbaik
dan menerapkan kedalam kehidupan nyata.

            Soft sistem thinking atau human
activity system sendiri memiliki batasan-batasan atau lingkup dari aktivitas sistem
manusia umumnya tidak atau kurang jelas dan berubah-ubah, serta tujuan dari
soft sistem thinking tersebut umumnya tidak atau kurang jelas dan menimbulkan
banyak interpretasi masalah tersendiri serta penentuan kinerja atau performance
yang akuran dari sistem ini umumnya juga sulit oleh karena itu munculah
beberapa akibat dari prinsip soft sistem thingking ini yatiu :

–        
Masalah
yang muncul pada soft sistem umumnya tidak terstruktur

–        
Sehingga
dalam melakukan analisa terhadap soft sistem harus mulai sejak bagaimana
masalah tersebut berbentuk dan muncul dipermukaan atau pengaturan masalah

–        
Dalam
melakukan analisa terhadap soft sistem thinking masalah-masalah yang muncul
baik dari segi sosial atau humaniora yang terbagi menjadi (politik, budaya,
tata nilai, estetika dan sebagainya) merupakan faktor-faktor yang diperlukan
diikutsertakan dan diperhatikan atau yang sering disebut sebagai pendekatan
prilaku manusia dalam kehidupannya.

Prinsip
soft sistem thingking sendiri juga masuk dalam soft sistem methodology yang
merupakan implementasi sistem thinking pada human activity sistem atau yang
dimaksuk soft sistem thinking dengan asumsi :

–        
Pemecaham
masalah yang tidak atau kurang jelas dan moral-merit atau berantakan

–        
Interpretasi
masalah oleh stakeholders, yang berbeda-bedan menurut sudut pandang
masing-masing

–        
Faktor
manusia yang memegang peranan penting

–        
Pendekatan
yang kreatif dan intuitif untuk pemecahan masalah yang terjadi

–        
Hasilnya
lebih merupakan suatu pembelajaran dan pemahaman yang lebih baik dari pada
solusi

Pada
umumnya manusia menggunakan pengalamannya baik yang bersifat individu ataupun
public untuk melakukan sebuah tindakan. Sejumlah tindakan terarah yang berasal
dari pengalaman yang berbasis pengetahuan akan menghasilkan pengalaman baru.
Prinsip soft sistem thingking merupakan hasil perbandingan antara situasi nyata
dengan sistem-sistem yang relecan terhadap aktivitas-aktivitas uantuk mencapai
suatu tujuan tertentu. Situasi dunia yang merupakan fokus dari permasalahn
menghasilkan pilihan-pilihan terhadap sistem yang relevan atau sesuai dengan
seluruh aktivitas dalam rangka tercapainya tujuan. Hasil perbandingan kedua
modal tersebut terhadap yang dibuthkan untuk melakukan permodelan lebih lagi.
Soft sistem sendiri merupakan salah satu dari metedologi soft sistem selain
soft sistem yang termasuk dari bagian adalah hard sistem. Soft sistem sendiri
dilihat dari prinsip merupakan salah satu pembelajaran bagaimana untuk
mengatasi masalah dunia nyata yang tidak jelas dan tidak terukur dengan
berfokus pada hubungan manusia secara lebih baik. Yang dimaksud dengan soft
sendiri secara umum adalah teknik yang sifatnya subjektif dan kualitatif
misalnya dengan mempertimbangkan prespektif stakeholder, menentukan fungsi
sistem secara utuh, serta mengdeskripsikan bagaimana fungsi tersebut memberikan
nilai bagi stakeholder.

Kritik
terhadap soft sistem thinking dari prinsip memiliki cakupan bidang soft sistem
thinking sangat luas sehingga ada beberapa bagian yang lebih kecil yang kurang
mendapat perhatian serius, soft sistem thinking juga menganut bahwa lingkungan
sosial yang merupakan wadah agar merak dapat mengambil partisipasi dan
kemungkinan untuk menjaminm dan melihat solusi dari berbagai masalah organisasi
sehingga dapat dijustifikasi secara cepat walaupun belum tentu akurat serta
kepercayaan soft sistem thinking dalam lingkup sosial hanya didukung karena
mereka dengan tiruanny membatasi ruang lingkup dari proyek mereka sehingga
tidak menetang ketertatikan klien atau sponsor mereka. Dibandingkan dengan poin
lainnya, soft sistem dikritis karena mereka terlalu subjektif atau idealis dan
sebagai konsekuensinya rentan terjadi konflik dan penyalahgunaan kekuasaan yang
ada.

Studi
kasus mengenai penerapan Prinsip soft sistem thinking dalam Manajemen Data dan Tata
Kelola Informasi Pemda DIY. Permasalah dalam manajemen informasi di Pemda DIY
di dominasi serta berkaitan dengan pengelolaan data dan informasi di
masing-masing unit kerja maupun Pemda DIY secara keseluruhan. Secara umum
permasalah tersevut yaitu : apa dan mengapa terjadi permasalah ?, apa yang
perlu dilakukan dan bagaimana permasalah itu dapat dipecahkan. Pertama,
berkaitan dengan masalah duplikasi data, ini menjelaskan adanya kondisi bahwa
aktivitas manajemen data masih menghasilkan data yang sangat bervariasi dan
berbeda walaupun tujuan yang sama. Implikasi dari duplikasi data telah
menimbulkan beberapa masalah. Paling tidak lima masalah, yaitu:

–        
Setiap
unit kerja yang terlibat dalam pengumpulan data di Pemda DIY merasakan tidak
adanya tipe, format data, dan model data yang sama untuk melakukan perencaraan,
pengumpulan, dan pengolahan data

–        
Strategi
manajaemn data diterjemahkan oleh setiap unit kerja secara berbeda karena
berdasarkan persepsi unit kerja yang dibatasi oleh Tupolsinya masing-masing.
Sebuah argumentasi yang rasional jika format data dan model data milik Pemda
DIY tidak ada

–        
Perbedaan
persepsi semakin menguat ketika setiap unit kerja dipengaruhi oleh kepentingan
tertentu yang bisa bersifat atau temporal, misalnya karena kewenangan
kepemilikan data adalah suaty yang sangat penting, setipa jargon “information
is power”. Ada semacam kesulitan mengembangkan budaya berbagi informasi dan
kewenangan dalam menjalankan tugas pemeritahan dan pelayanan kepada masyarakat
karena setiap informasi dan kewenangan berarti hegemoni kekuasaan dan sumber penghasilan
tambahan pegawai. Kondisi ini semakin menguat perbedaan kepentingan dalam
proses manajemen data, sehingga tidak ada pembagian kerja seperti format
manajemen data

–        
Pengambilan
data yang tidak terstandar akan menimbulkan kualitas dan intergitas data yang
tidak terjamin sehingga mengakibatkan informasi yang disediakan oleh setiap
unit kerja dapat berbeda-beda sehingga akan menyebabkan distorsi yang cukup
lebar untuk sumber pembuatan keputusan.

–        
Tidak
adanya gudang data yang terpadu menjadikan masalah manajemen data menjadi
semakin sistemik.

Kedua,
berkaitan dengan masalah tidak optimalnya tat kelola informasi ini menjelaskan
adanya kondisi bahwa belum terlihatnya aktivitas tata kelola informasi di Pemda
DIY untuk peningkatan peran setiap setahun kerja dalam pencapaian kualitas
informasi dan koordinasi dalam manajemen informasi. Implikasi dari belum
optimalnya tata kelola informasi telah menimbulkan beberapa masalah. Masalah
pertama yang manajemen informasi Pemda DIY adalah adanya keragaman prespektif
dan kepentingan dengan kecenderungan ego sektoral dalam pengelolaan data di
unit-unit kerja Pemda DIY, sehingga mengakibatkan permsalahan manajemen data,
seperti kepemilikan data yang menjadi milik unit kerja,duplikasi, tidka valid
dan ralibelnya data,serta kualitas data yang kurang terjaga. Untuk itu,
pihak-pihak berkepentingan dalam manajemen data di Pemda DIY, harus melakukan
perubahan atau transformasi sistemik. Bentuk informasinya yaitu membangun suatu
sistem untuk mamadukan atau mengintegrasikan pengolaan data digital guna
mengatasi tidak terintergrasikannya data dengan baik, format data yang tidak
kompatibel, dan tidak saling mangacu pada data unit yang lain yang berorientasi
pada koloborasi interoperabilitas.