BAB pada dasarnya manusia memang suka/ senang bercerita dan

BAB
I
PENDAHULUAN

 

A.      
Latar
Belakang

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Dunia pendidikan merupakan
sesuatu yang sangat diperhatikan. Karena dunia pendidikan
memiliki peran untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa yang menjadi salah
satu ujung tombak suatu negara. Hal ini tentu menjadi tugas  para pendidik untuk dapat mengembangkan
berbagai metode yang mempermudah proses transfer ilmu pengetahuan. Terdapat berbagai macam metode yang dipergunakan guru dalam menyampaikan
materi pembelajaran. Salah satu metode yang diguanakan yaitu metode storytelling/ bercerita.

Storytelling/ bercerita adalah suatu aktivitas lisan yang perancangannya bukan sekedar untuk
didengarkan tetapi juga para peserta baik yang bercerita maupun yang
mendengarkan cerita harus ikut terlibat di dalamnya. Dialog serta kontak mata
yang cukup yang terjadi antara guru serta siswa merupakan sesuatu kelebihan
yang unik dalam storytelling karena perilaku
demikian merupakan interaksi nyata serta natural dalam berkomunikasi, yang
dimaksud di sini adalah antara guru sebagai pendongeng dan juga siswa sebagai
pendengarnya.1

Mengajar melalui storytelling atau mendongeng di Indonesia bukanlah merupakan metode
pengajaran yang asing maupun baru bagi para guru sebagai pendidik. Mendongeng, yang
merupakan salah satu bagian budaya dan tradisi lisan ini berlangsung sudah
sejak lama dan secara turun temurun. Walau bagaimanapun baik dilihat dari
kelebihan maupun kelemahan metode mendongeng, bisa dikatakan bahwa mendongeng
memiliki unsur tradisi lisan yang dapat menunjukkan bahwa pada dasarnya manusia
memang suka/ senang bercerita dan mendengarkan cerita (story).

Proses yang benar, materi
yang baik serta pengajar yang mengetahui cara yang tepat dalam penyampaian  materi  merupakan kunci dalam  menguasai materi pelajaran. Namun
banyak kendala yang dihadapi dalam mengajarkanIlmu Pengetahuan Alam, misalnya
mencari materi yang sesuai dengan kebutuhan siswa bukanlah hal mudah. Langkanya
materi yang sesuai dengan kebutuhan dan situasi dapat mendorong pengajar untuk
menggunakan materi yang sama berulang-ulang tanpa mempertimbangkan kesesuaiannya
dengan pembelajar. Hal ini tentu saja akan menimbulkan
kebosanan pada siswa dan jugamengurangi kemutakhiran materi.
Untuk mengatasinya, pengajar dapat memanfaatkan storytelling untuk menyampaikan materi. Maka karena
hal-hal tersebut saya tertarik untuk membuat tulisan dengan judul “Mengintegrasikan Storytelling dengan Pendidikan
Ilmu Pengetahuan Alam”. Hal ini juga saya dapat lihat penerapannya di salah
satu sekolah seperti SMA Terpadu Ar-risalah.

B.      
Tujuan

Berdasarkan
latar belakang tersebut, maka tujuan yang ingin 
penulis capai dalam penulisan tugas ini adalah sebagai berikut:

1.       
Untuk mengetahui hubungan storytelling
dengan dunia pendidikan.

2.       
Untuk mengetahui integrasi/ keterpaduan
antara storytelling dengan
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam yang
diterapkan di SMA Terpadu Ar-risalah.

C.      
Metode

Jenis metode yang digunakan pada penulisan  ini bersifat deskriptif. Jenis metode
deskriptif adalah jenis metode yang bertujuan mendeskripsikan atau menjelaskan
sesuatu hal seperti apa adanya.2
Metode ini berfungsi untuk mencari fakta status sekelompok manusia, suatu
objek, kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu peristiwa pada masa
sekarang dengan interpretasi yang tepat. Dalam penelitian ini penulis
menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek
penelitian adalah siswa XI IPA 1 SMA Terpadu Ar-Risalah. Data dalam penelitian adalah hasil wawancara. Wawancara dilakukan dengan Ibu Euis
Aminah, M.Pd selaku wali kelas XI IPA 1 SMA Terpadu Ar-risalah.

 

BAB
II
PEMBAHASAN

 

A.     Storytelling dan Pendidikan

Mengajar melalui Storytelling atau mendongeng dalam konteks
pengajaran di Indonesia bukanlah strategi pengajaran yang baru dan asing bagi
para pendidik. Mendongeng menjadi salah satu tradisi atau budaya lisan yang sudah
lama berlangsung secara turun temurun. Adapun pengertian serta fungsi storytelling dalam
dunia pendidikan adalah sebagai berikut:

 

1.      Storytelling

Storytelling berasal dari dua
kata yaitu story yang artinya berarti cerita dan telling yang memiliki makna
penceritaan. Gabungan dua kata tersebut
 membentuk sebuah kata storytelling berarti penceritaan cerita
atau menceritakan cerita. Selain itu, storytelling disebut juga
bercerita berdasarkan tradisi lisan. Storytelling merupakan usaha yang
dilakukan oleh pendongeng dalam menyampaikan isi perasaan, buah pikiran atau
sebuah cerita kepada pendengar secara lisan.3

Bisa diartikan bahwa bercerita
adalah mengungkapkan/ menuturkan
sesuatu yang menceritakan tentang suatu kejadian ataupun perbuatan dengan cara lisan sebagai upaya untuk
mendongkrak potensi dan kemampuan seseorang. Dalam
pelaksanaan kegiatan pembelajaran di sekolah,metode bercerita dilaksanakan
dalam upaya memperkenalkan, memberikan keterangan, atau penjelasan tentang hal
baru dalam rangka menyampaikan pembelajaran yang dapat mengembangkan berbagai
kompetensi.

Ada beberapa jenis cerita yang bisa  diceritakan saat di pembelajaran kelas.
Kisah-kisah tesebut tergantung dengan tema pembelajaran yang akan diajarkan
oleh guru. Adapun jenis kisah yang dapat diceritakan seperti kisah-kisah
sebagai berikut:

a.    Kisah nyata dari pengalan hidup.

b.    Kisah nyata dari kehidupan seseorang yang
dikenal, seperti teman, anggota keluarga, atau tetangga.

c.    Kisah nyata dari berita atau acara terkini.

d.    Sebuah cerita yang ada dalam sejarah.

e.    Cerita fiksi, dengan karakter yang dibuat.

f.     Cerita “Bayangkan jika …” yang
membentuk situasi hipotetis.

Selain
jenis-jenis kisah diatas, guru juga dapat menggabungkannya berbagai genre dan
gaya bercerita sehingga kisah-kisah yang diceritakan dikelas menjadi semakin
menarik.4

 

2.      Funsi Storytelling dalam Pendidikan

Metode storytelling (bercerita) merupakan metode yang dirasa
cukup tepat sebagai upaya memenuhi kebutuhan pendidikan. Karena storytelling
untuk pendidikan memiliki fungsi sebagai berikut:

a.      
Membantu
perkembangan aspek kognitif

b.     
Mengembangkan
kemampuan berbahasa.

c.      
Mengembangkan
kemampuan membaca

d.     
Mengembangkan
kepekaan terhadap cerita

e.      
Meningkatkan
kemampuan menulis

f.      
Membantu
perkembangan aspek sosial.

g.      
Membantu
perkembangan aspek emosional.

h.     
Membantu
perkembangan aspek kreativitas.

Fungsi
serta manfaat dari metode storytelling dapat dirasakan selama proses
belajar mengajar bagi semua tingkatan siswa. Metode ini juga memiliki beberapa
kelebihan seperti low Coast (mutah) karena dalam menggunakan metode ini
tidak membutuhkan alat serta bahan yang cukup mahal ataupun menggunakan
peralatan yang sulit untuk didapatkan. Karena gerak serta mimik guru dalam
bercerita sudah menjadi media yang multifungsi yang dapat dimanfaatkan untuk membantu siswa memahami
isi dari sebuah cerita.

 

B.     Mengintegrasikan
Storytelling dengan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam

Penggunaan storytelling sebagai
strategi pembelajaran saat ini sedang mengalami kebangkitan minat yang cukup
besar. Hal ini menyebabkan banyak pendidik memikirkan cara-cara di mana
pengisahan cerita dapat digunakan untuk mengeksplorasi tema dan visi untuk
kepentinganbersama pembelajaran. Begitu pula penerapan storytelling dalam
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di sekolah.

Semua orang menyukai cerita yang bagus –
terutama para siswa. Sebenarnya, bisa menceritakan sebuah cerita dengan cara
yang unik dan menarik adalah keterampilan mengajar yang penting. Ini karena
cerita yang bagus tidak hanya menghibur tapi mampu membuat siswa agar tetap
fokus saat mereka mempelajari konsep, sikap dan keterampilan penting lainnya
yang sedang dijelaskan oleh pengajar.5

Storytelling yang
merupakan metode pembelajaran yang menarik diapilikasikan dengan berbagai ilmu
lainnya, salahsatunya yaitu di integrasikan dengan Ilmu Pengetahuan Alam. IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) merupakan ilmu
yang berisi tentang pengetahuan teoritis serta sistematis dengan menggunakan
metode khusus. IPA merupakan ilmu yang bersifat teoritis, namun teori-teori
yang ada dalam IPA tercipta berdasarkan hasil pengamatan dan
percobaan-percobaan terhadap gejala alam yang terjadi. Tidak
jarang juga ilmu pengetahuan alam berisikan tentang berbagai rumus yang
membingungkan. Terlebih lagi cabang-cabang IPA yang diajarkan di SMA seperti
kimia dan fisika. Salah satu SMA yang menerapkan metode storytelling dalam pembelajaran IPA yaitu SMA Terpadu Ar-risalah.

SMA Terpadu Ar-risalah merupakan sekolah
swasta berbasis agama. Jika ditinjau dari latar belakang pendidikannya boleh
dikatakan sama, tetapi terdapat perbedaan dari segi perhatian terhadap anak
didiknya, kurikulum, pola mengajar, dan lain-lain. Pola
mengajar guru di sekolah swasta cenderung lebih memiliki inovasi. Salah satu
contoh metode pembelajaran inovatif
disini yaitu mengkombinasikan antara ilmu pengetahuan dengan ilmu agama yang
diintegrasikan melalui storytelling/ cerita.

Seperti ketika mempelajari fisika tentang
kecepatan cahaya, disekolah ini guru menceritakan kejadian Nabi Muhammad
diangkat ke langit atau dalam ajaran Islam lebih dikenal dengan sebutan isra
mi’raj. Dalam cerita tersebut nabi sampai ke langit teratas dengan menaiki
mahluk yang dipercaya kecepatannya seperti kecepatan cahaya hanya dengan waktu
satu malam. Kemudian ketika guru telah bercerita maka guru akan memaparkan
rumus-rumus tentang teori kecepatan cahaya dan tekadang juga menampilkan
animasi/ videonya. Dengan menggunakan metode storytelling  sebelum ataupun sesudah menjelaskan teori
fisika, maka para murid lebih memahami tentang apa fungsi fisika dalam
kehidupan sehari-hari, dan untuk menghapuskan anggapan bahwa fisika hanyalah
tentang deretan angka dan rumus-rumus belaka.

Selain itu, pelajaran biologi di sekolah
ini juga menggunakan metode storytelling dalam pembelajarannya.
Contohnya, saat mempelajari teori evolusi, maka guru akan menceritakan tentang
kisah diciptakannya Nabi Adam dan Hawa. Sehingga para siswa dapat mengetahui bahwa
ilmu pengetahuan boleh untuk dipelajari tetapi para siswa juga diajarkan agar
bijak dalam mengelola pengetahuan yang telah mereka dapatkan.

Para guru Ilmu Pengetahuan Alam di kelas XI
IPA 1 di sekolah ini tidak hanya bercerita tentang kisah-kisah agama, tetapi
para guru juga tidak jarang bercerita tentang keadaan disekitar kita. Seperti
cerita tentang proses pembuatan es goyang yang hanya mengandalkan bongkahan es
batu yang kemudian dicampur dengan butiran garam. Setelah menceritakan tentang
proses penjual es goyang dalam memproduksi dagangannya tersebut maka guru kimia
akan memaparkan teori dan rumus-rumus mengapa penjual es tersebut dapat membuat
es tanpa adanya lemari es. Ternyata kejadian tersebut berhubungan dengan teori
sifat kolegatif larutan.

Terkadang, guru juga memberikakan
tugas-tugas fisika, biologi, ataupun kimia yang harus disertai dengan cerita/
kisah yang berkaitan dengan materi yang ditugaskan. Seperti ketika siswa akan
mempelajari tentang kloning untuk pertemuan selanjutnya, maka guru menugaskan kepada
para murid untuk mencari sejarah atau kisah kloning yang kemudian para siswa di
persilahkan untuk menceritakan di depan kelas atau berdiri di tempat
masing-masing secara bergantian dan saling melengkapi tentang apa yang mereka
dapatkan mengenai kloning disaat pertemuan selanjutnya.

Jadi selama kegiatan belajar mengajar
dengan menggunakan metode storytelling tidak hanya didominasi oleh guru
tetapi para siswa pun dituntut untuk ikut berperan aktif selama pembelajaran. Pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan media bercerita tidak akan Pernah
terwujud tanpa adanya yang dapat menunjangnya. Adapun hal-hal tersebut antara
lain adalah6:

1.      Cerita yang
disampaikan harus menyesuaikan dengan materi pelajaran yang akan dibahas.

2.      Guru harus dapat
mempersiapkan cerita-cerita yang menarik.

3.      Memberikan evaluasi kepada
para siswa dengan memberikan tugas yang dapat mereka kerjakan di rumah. Hal ini
perlu dilakukan karena terbatasnya waktu di sekolah.

4.      Kerja sama yang terjalin
secara baik antara siswa dan guru selama proses pembelajaran.

 

Selain hal-hal
yang telah disebuatkan di atas, maka perlu
juga memperhatikan langkah-langkah berikut:

1.       
Menjelaskan

Artinya guru menjelaskan cerita pendek.

2.       
Pemberian contoh

Guru memberikan contoh untuk menceritakan sebuah cerita.

3.       
Tugas

Meminta siswa untuk melakukan bercerita dengan menggunakan kata-kata
mereka sendiri.

4.       
Review

Guru memberikan review setelah siswa melakukan storytelling.

Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa storytelling berhasil
untuk membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman tentang Ilmu Pengetahuan
Alam.

Selain
hal itu, metode storytelling merupakan cara serta metode yang ampuh dan
juga efektif untuk memberikan Human touch atau sentuhan manusiawi bagi para
siswa. Melalui storytelling  juga,
wawasan serta pemikiran siswa menjadi lebih luas, lebih kritis, lebih baik,
serta lebih cerdas. Melalui metode ini pula, siswa dapat lebih memahami mana
yang perlu ditiru atau mana yang perlu diabaikan. Hal ini membantu siswa untuk
mengidentifikasi diri dengan lingkungan di sekitar untuk mempermudah peserta
didik dalam menilai serta memposisikan diri saat berada di tengah-tengah orang
lain.

Sebaliknya, siswa yang imajinasinya kurang akan berakibat pada kurangnya
pergaulan, sulit untuk beradaptasi maupun bersosialisasi jika dihadapkan dengan
lingkungan yang baru.Oleh karena itu, guru
diharapkan mampu dan menguasai ketarampilan dalam metode storytelling atau
bercerita. Dengan menguasai teknik bercerita atau dongeng
dengan baik, maka seorang guru berkesempatan menggali potensi kecerdasan siswa,
baik kecerdasan intelegensi, emosi sosial maupun spiritual yang ada di dalam
diri siswa atau anak didiknya.

Berdasarkan
pendidikan mengungkapkan bahwa dalam proses belajar mengajar IPA perlu
menekankan keterampilan proses. Artinya keterampilan proses merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari pembelajaran IPA. Keterampilan proses sains merupakan
pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada proses IPA untuk memahami
suatu konsep IPA. Apabila anak berhasil memahami materi yang telah disampaikan,
maka hal tersebut akan membantu supaya lebih memudahkan siswa dalam memahami
pelajaran dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di sekolah. Untuk
meningkatkan pemahaman pada siswa dalam mata pelajaran IPA, diperlukan adanya suatu metode pengajaran yang efektif sehingga siswa
dapat termotivasi untuk mengikuti pelajaran dengan baik
dan dapat meningkatkan kualitas belajarsiswa di sekolah.

 

BAB
III
PENUTUP

 

A.    Simpulan

Mengajar dengan menggunakan media storytelling atau mendongeng di Indonesia bukanlah metode pengajaran yang
asing maupun baru bagi para guru sebagai pendidik. Mendongeng, yang merupakan salah
satu bagian budaya dan tradisi lisan ini berlangsung sudah sejak lama dan secara
turun temurun.

Metode storytelling atau bercerita
merupakan metode yang dianggap tepat dan layak untuk
memenuhi kebutuhan pendidikan. Karena storytelling
untuk pendidikan memiliki fungsi untuk membantu perkembangan aspek kognitif, mengembangkan
kemampuan berbahasa, mengembangkan kemampuan membaca, mngembangkan kepekaan
terhadap cerita, meningkatkan kemampuan menulis, membantu perkembangan aspek
sosial, membantu perkembangan aspek emosional, dan membantu perkembangan aspek
kreativitas.

Metode storytelling  tersebut tidaka akan pernah terwujud tanpa
adanya hal-hal yang dapat menunjang pelaksanaan metode bercerita yaitu penggunaan
metode bercerita harus disesuaikan dengan materi yang akan dibahas. Sehingga
guru harus pandai dalam memilih metode, seorang guru harus mempersiapkan diri
dengan cerita-cerita menarik yang didapatnya, dan memilih cerita-cerita yang
ada kaitannya dengan materi yang akan dibahas, mengingat waktu yang dibutuhkan
untuk penggunaan metode bercerita cukup terbatas, maka hendaknya memberikan
evaluasi kepada anak didik berupa tugas yang dapat dikerjakan di rumah, dan kerjasama
yang baik antara guru dan anak didik.

               

B.     Saran

Berdasarkan simpulan di atas maka penulis menyampaikan saran sebagai
berikut: Semoga sekolah-sekolah yang ada di Indonesia dan para pengajarnya
dapat terus menciptakan metode-metode pembelajaran yang inovatif seperti storytelling. Dan diharapkan para pengajar dapat menguasai teknik mendongeng dengan baik dan benar. Agar para guru dapat menggali dan menemukan potensi kecerdasan siswa,
baik kecerdasan intelektual, emosi sosial maupun spiritual yang ada di dalam
diri siswa dengan
menggunakan metode storytelling.

1 Sri Setyani, Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Storytelling:
Sebuah Terobosan dalam Upaya Meningkatkan Output Pembelajaran Bahasa Inggris
Anak Usia Dini. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia, 2015. hlm. 1.
Diakses pada 02 Januari 2018 di http://ejournal.upi.edu/index.php/JER/article/view/1293

2
Prasetya Irawan, Logika dan Prosedur Penelitian (Jakarta: STIA- LAN Press, 1999). Hal.
60

 

4 Simpson, Karen . The importance of storytelling. England:Canterbury Christ Church
University. Diakses pada 2 Januari di http://www.consider-ed.org.uk/the-importance-of-storytelling/

5
UNESCO. Storytelling. Diakses pada 02 Januari 2018 di
http://www.unesco.org/education/tlsf/mods/theme_d/mod21.html

6 Della Rahmah. Efektifitas Metode Bercerita pada Proses
Pembelajaran Bidang Studi Aqidah Ahlak di MTSN 13 Ulujami Jakarta Selatan.
Jakarta: UIN syarif Hidayatullah, 2006. Diakses pada 2 Januari 2018 di  http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/10758/1/77857-DELLA%20RAHMAH-FITK.pdf